Sabtu, 16 Juni 2012

DEMAM TIFOID

1.DEFINISI
 Demam tifoid, atau typhoid adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonella Typhi. (wikipedia.org).
Thypus abdominalis atau demam tifoid ialah suatu penyakit infeksi menular pada manusia yang disebabkan oleh bakteri yang menyerang pada saluran pencernaan di bagian usus (Murwani, 2009; Corwin, 2009).
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang terjadi pada usus halus yang disebabkan oleh salmonellla thypi. Penyakit ini dapat ditularkan melalui makanan, mulut atau minuman yang terkontaminasi oleh kuman salmonella thypi (Hidayat, 2008).
Demam tifoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan bakteremia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan urelasi nodus peyer distal ileum (Soegijanto, 2002).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwan demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi yang terjadi pada usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella typhi yang dapat ditularkan melalui makanan, mulut, atau minuman yang terkontaminasi oleh kuman salmonella thypi.

2.ETIOLOGI

Demam tifoid disebabkan oleh kuman Salmonella Thypi (salmonelia tiphosa), Salmonella Paratyphi A, Salmonella Paratyphi B, Salmonella Paratyphi C, Salmonella Shocttmuelleri, dan Salmonella Hirschfeldii (Samekto, 2001; Mansjoer, 2000; Murwati, 2009). Adapun beberapa macam dari Salmonella Typhi adalah sebagai berikut:
1. Salmonella thyposa, basil gram negative yang bergerak dengan bahu getar, tidak bersepora mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu:
a. Antigen O (somatic, terdiri dari zat komplek lioporisakarida)
b. Antigen H (flagella)
c. Antigen K (selaput) dan protein membrane hialin.
2. Salmonella parathypi A
3. Salmonella parathypi B
4. Salmonella parathypi C
Ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typoid dan masih terus
mengeksresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun, ini akan dapat menginfeksi orang lain.

3.PATOFISIOLOGI

Masuknya kuman Salmonella Typhi dan Salmonella Paratyphi kedalam tubuh manusia terjadi melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman dimusnahkan dalam lambung, sebagian lolos masuk ke dalam usus dan selanjutnya berkembang biak. Bila respon imunitas humoral mukosa (IgA) usus kurang baik maka kuman akan menembus sel-sel epitel (terutama sel-M). Bila terjadi komplikasi perdarahan dan peforasi intestianal, kuman menembus lamina propia, masuk aliran limfe menjadi kelenjar limfe mesenterial, dan masuk aliran darah melalui duktus torasikus. Kuman berkembangbiak di lamina dan difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag. Kuman dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya di bawa ke plague peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika. Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman yang terdapat di dalam makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakterimia pertama yang asimtomatik) dan menyebar ke seluruh organ retikuloendetial tubuh terutama hati dan limfa.
 Di organ-organ ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah lagi mengakibatkan bakterimia yang kedua kalinya dengan di sertai tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik. Kuman di dalam hati masuk ke dalam kandung empedu berkembang biak dan bersama cairan empedu diekskresikan secara intermitten ke dalam lumen usus. Sebagian kuman di keluarkan melalui feses dan sebagian melalui masuk lagi ke dalam sirkulasi setelah menembus usus. Proses yang sama terulang kembali, berhubung makrofag telah teraktivasi dan hiperaktif maka saat fagositosit kuman salmonella terjadi pelepasan beberapa mediator inflamasi yang selanjutnya akan menimbulkan gejala reaksi inflamasi yang selanjutnya akan menimbulkan gejala reaksi inflamasi sistemik seperti demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit perut, instabilitas vaskular, gangguan mental, dan koagulasi. Di dalam plague peyeri makrofag hiperaktif menimbulkan reaksi hiperplasia jaringan Salmonella typhi intra makrofag menginduksi reaksi hipersensitivitas tipe lambat, hiperplasia jaringan dan nekrosis organ). Pendarahan saluran cerna dapat terjadi akibat erosi pembuluh darah sekitar plague peyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hiperpalsia akibat akumulasi sel-sel mononuklear di dinding usus. Proses patologis jaringan limpoid ini dapat berkembang hingga di lapisan otot, serosa usus, dan dapat mengakibatkan perforasi. Endotoksin dapat menempel di reseptor sel endotel kapiler dengan akibat timbulnya komplikasi seperti gangguan neuropsikiatrik, kardiovaskuler, pernafasan dan gangguan organ lainnya (Widodo, 2007; Mansjoer, 2000).

4.PATWAYS


5.MANIFESTASI KLINIS

Masa tunas demam tifoid berlangsung antara 10-14 hari. Gejala-gejala klinis yang timbul sangat bervariasi dari ringan sampai dengan berat, dari asimtomatik hingga gambaran penyakit yang khas diderita disertai komplikasi hinggga kematian. Satu minggu pertama keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis. Pemeriksaan fisik hanya di dapatkan peningkatan suhu badan. Sifat demam adalah meningkat perlahan-lahan dan terutama pada sore hingga malam hari.
Gejala-gejala menjadi lebih jelas dalam minggu kedua berupa demam, bradiarkia relatif (bradiarkia relatif adalah peningkatan suhu 1oC tidak diikuti dengan peningkatan nadi 8 kali per menit), lidah yang berselaput (kotor ditengah, tepi dan ujung merah serta tremor), hepatomegali, splenomegali meteroismus, gangguan mental berupa somnollen, strupor, koma, delirium, atau psikosis. Roseolae jarang ditemukan pada orang Indonesia (Widodo, 2007; Mansjoer, 2000).
 gambaran klinis


6.PEMERIKSAAN PENUNJANG

Menurut Samekto (2001) pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan pada pasien dengan demam tifoid adalah:
1. Pemeriksaan darah perifer lengkap
Dapat ditemukan leukopeni, dapat pula leukositosis atau kadar leukosit normal. Leukositosis dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder. Dapat pula ditemukan anemia ringan dan trombositopeni. Pemeriksaan hitung jenis leukosit dapat terjadi aneosinofilia maupun limfopeni. Laju endap darah dapat meningkat.
2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali normal setelah sembuh. Peningkatan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan penanganan khusus.
3. Pemeriksaan uji widal
Uji widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri Salmonella Thypi. Pada uji widal terjadi suatu reaksi aglutinasi antara antigen bakteri Salmonella Thypi dengan antibodi yang disebut aglutinin. Uji widal dimaksudkan untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita tersangka demam tifoid. Akibat adanya infeksi oleh kuman Salmonella Typhi maka penderita membuat antibodi (aglutinin) yaitu: Aglutinin O, Aglutinin H, Aglutinin Vi. Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis demam tifoid. Semakin tinggi titernya semakin besar kemungkinan menderita demam tifoid Cepat lelah Tromboflebitis miokarditis Cemas.

7.KOMPLIKASI

Komplikasi Thypus Abdominalis menurut Mandala (2006) sebagai berikut:
1. Perdarahan dan perforasi usus (terutama pada minggu ketiga).
2. Miokarditis.
3. Neuropsikiatrik: psikosis, ensefalomielitis.
4. Kolesistitis, kolangitis, hepatitis, pneumonia, pancreatitis.
5. Abses pada limpa, tulang atau ovarium (biasanya setelah pemulihan).
6. Keadaan karier kronik (kultur urin atau tinja positif setelah 3 bulan) terjadi pada 3% kasus (lebih sedikit setelah terapi fluorokuinolon).

8.PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan thypoid secara medis dan keperawatan menurut Widodo (2007), Samekto( 2001), Mansjoer(2000) sebagai berikut:
1. Penatalaksanaan Medis
Pemberian antibiotik untuk menghentikan dan memusnahkan penyebaran kuman. Antibiotik yang dapat digunakan:
a. Cloramfenikol: Obat ini digunakan untuk menekan fungsi sumsum tulang, sehingga tidak boleh diberikan pada penderita dengan gangguan fungsi sumsum tulang belakang.
b. Tiamfenikol: Efektifitasnya hampir sama dengan kloramfenikol, tetapi komplikasi hematologi seperti kemungkinan terjadinya anemia aplastik lebih rendah.
c. Kotrimoksazol.
d. Ampisillin/ Amoksilin: Diberikan selama dua minggu. Kemampuan obat ini menurunkan demam lebih rendah dibandingkan dengan kloramfenikol.
e. Sefalosporin generasi ketiga: Golongan sefalosporin generasi ke tiga yang terbukti efektif untuk demam tifoid adalah Ceftriaxone.
f.Golongan Fluorokuinolon: Norfloksasin , Siprofloksasin, Ofloksasin, Pefloksasin, Fleroksasin.
g. Kombinasi antibiotik: Pemakaian kombinasi 2 antibiotik atau lebih hanya diindikasikan pada keadaan tertentu seperti: Tifoid toksik, peritonitis atau peforasi, syok septik.
h. Kortikosteroid: Penggunaan steroid hanya diindikasikan pada toksik tifoid atau demam tifoid yang mengalami syok septik.

2. Keperawatan
Pencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari. Mobilisasi dilakukan  sesuai tahap dengan pulihnya kekuatan pasien. Dalam perawatan perlu sekali dijaga higine perseorangan, kebersihan tempat tidur, pakaian dan peralatan yang dipakai oleh pasien. Pasien dengan kesadaran menurun posisinya perlu diubahubah untuk mencegah dekubitus dan pneumonia hipostatik, defekasi dan buang air perlu diperhatikan karena kadang-kadang terjadi konstipasi dan retensi urine.

9.DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN

Fokus intervensi yang dapat dirumuskan untuk mengetahui masalah keperawatan pada pasien thypoid merujuk pada NIC NOC, (2008), Carpenito, (2001):
1. Peningkatan suhu tubuh atau hipertermi berhubungan dengan Infeksi  Salmonella Thypi.
a. Tujuan : suhu tubuh normal atau terkontrol.
b. Kriteria hasil : Suhu tubuh 36,5-37,5°C, mencari pertolongan untuk pencegahan peningkatan suhu tubuh, turgor kulit membaik, badan tidak teraba panas.
c. Intervensi:
1) Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang peningkatan suhu tubuh.
Rasional: agar klien dan keluarga mengetahui sebab dari peningkatan suhu dan membentu mengurangi kecemasan yang timbul.
2) Anjurkan klien menggunakan pakaian tipis dan menyerap kringat.
Rasional: Untuk menjaga agar klien merasa nyaman, pakaian tipis akan membantu mengurangi penguapan tubuh.
3) Batasi pengunjung
Rasional: Agar klien merasa tenang dan udara di dalam ruangan tidak terasa panas.
4) Observasi TTV tiap 4 jam sekali.
Rasional: Tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
5) Anjurkan pasien untuk banyak minum, minum kurang lebih 2,5
liter / 24 jam.
Rasional: Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.
6) Berikan kompres hangat.
Rasional: Untuk membantu menurunkan suhu tubuh.
7) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotic dan antipiretik.
Rasional: Antibiotik untuk mengurangi infeksi dan antipiretik untuk mengurangi panas.
 
2. Resiko kurang nutrisi berhubungan dengan intake tidak adekuat karena mual dan tidak narsu makan.
a. Tujuan: pasien mampu mempertahankan kebutuhan nutrisi adekuat.
b. Kriteria hasil : Nafsu makan meningkat, pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan.
c. Intervensi:
1) Jelaskan pada klien dan keluarga tentang manfaat makanan atau nutrisi.
Rasional: Untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang nutrisi sehingga motivasi untuk makan meningkat.
2) Timbang berat badan klien setiap 2 hari.
Rasional: Untuk mengetahui peningkatan dan penurunan berat badan.
3) Beri nutrisi dengan diet lembek, tidak mengandung banyak serat, tidak merangsang, mampu menimbulkan banyak gas dan dihidangkan saat masih hangat.
Rasional: Unutk meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan.
4) Beri makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering.
Rasional: Untuk menghindari mual dan muntah.
5) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antasida dan nutrisi parentral.
Rasional: Antasida mengurangi rasa mual dan muntah, nutrisi parenteral dibutuhkan terutama jika kebutuhan nutrisi per oral sangat kurang.

3. Intoleransi aktivitas berhubungan kelemahan fisik.
a. Tujuan: pasien bias melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari optimal.
b. Kriteria hasil: Kebutuhan personal terpenuhi, dapat melakukan gerakan yang bermanfaat bagi tubuh, memenuhi aktivitas kehidupan sehari-hari dengan tehnik penghematan energy.
c. Intervensi :
1) Tingkatkan tirah baring /duduk.
Rasional : Meningkatkan istirahat dan ketenangan
2) Beri motivasi pada klien dan keluarga untuk melakukan mobilisasi sebatas kemampuan (missal : miring kanan, miring kiri).
Rasional: Agar klien dan keluarga mengetahui pentingnya mobilisasi bagi pasien yang bedrest.
3) Kaji kemampuan klien dalam beraktivitas (makan, minum).
Rasional: untuk mengetahui sejauh mana kelemahan yang terjadi.
4) Berikan latihan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang.
Rasional: untuk menghindari kekakuan sendi dan mencegahadanya degubitus.

4. Resiko kurang cairan berhubungan dengan pengeluaran cairan yang berlebihan intake menurun.
a. Tujuan: tidak terjadi gangguan keseimbangan cairan.
b. Kriteria hasil: Turgor baik , wajah tidak nampak pucat, suhu 36,5-
37,5°C, TD : 120/80 mmHg, urin out put 1-2 cc/kg BB/jam.
c. Intervensi:
1) Berikan penjelasan tentang pentingnya kebutuhan cairan pada klien dan keluarga.
Rasional: Untuk mempermudah pemberian cairan (minum) pada pasien.
2) Observasi pemasukan dan pengeluaran cairan.
Rasional: Untuk mengetahui keseimbangan cairan.
3) Anjurkan klien untuk banyak minum kurang lebih 2,5 liter/24 jam.
Rasional: Untuk pemenuhan kebutuhan cairan.
4) Observasi kelancaran tetesan infuse.
Rasional: Untuk pemenuhan kebutuhan cairan.
5) Kolaborasi dengan dokter untuk terapi cairan (oral/parentral).
Rasional: Untuk pemenuhan kebutuhan cairan yang tidak terpenuhi (secara parentral ).

5. Gangguan pola eliminasi: BAB (konstipasi) berhubungan dengan kurangnya cairan dan serat dalam tubuh, imobilisasi.
a. Tujuan :Tidak terjadi gangguan pada pola eliminasi BAB.
b. Kriteria hasil :Klien dapat BAB secara rutin yaitu 1X sehari seperti biasa, feses lunak
c. Intervensi :
1) Monitor tanda-tanda vital.
Rasional: Untuk mengetahui perkembangan kondisi klien.
2) Anjurkan klien untuk sering minum air putih yang banyak.
Rasional: Supaya masukan cairan adekuat membantu mempertahankan konsistensi feses yang sesuai pada usus dan membantu eliminasi.
3) Anjurkan klien untuk makan makanan yang berserat.
Rasional: Karena diet seimbang tinggi kandungan serat merangsang peristaltik dan eliminasi regular.
4) Berikan huknah gliserin untuk membantu mempermudah BAB.

6. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.
a. Tujuan : Nyeri tidak timbul
b. Kriteria hasil: Ekspresi wajah rileks, nyeri hilang, skala nyeri menurun.
c. Intervensi :
1) Ajarkan tindakan penurun nyeri noninvasif (relaksasi, stimulasi kutan).
Rasional: untuk mengontrol nyeri.
2) Berikan individu kesempatan untuk istirahat selama siang hari dan dengan waktu yang tidak terganggu pada malam hari.
Rasional: untuk meningkatkan istirahat klien agar mengurangi nyeri.
3) Berikan informasi yang akurat untuk mengurangi nyeri.
Rasional: agar klien tau penyebab nyeri pada pasien thypus abdominalis.
4) Berikan individu pereda rasa sakit yang optimal dengan analgesik.
Rasional :Untuk memberikan terapi pereda nyeri.

7. Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi.
a. Tujuan : Pengetahuan keluarga meningkat
b. Kriteria hasil : Keluarga mampu menyebutkan pengertian thypoid, tanda gejala, penyebab, diit yang diberikan pada pasien thypoid
c. Intervensi:
1) Kaji sejauh mana tingkat pengetahuan pasien tentang penyakitnya
Rasional: mengetahui apa yang diketahui pasien tentang penyakitnya.
2) Beri pendidikan kesehatan tentang penyakit dan perawatan pasien
Rasional: supaya pasien tahu tata laksana penyakit, perawatan dan pencegahan penyakit typhoid.
3) Beri kesempatan pasien dan keluarga pasien untuk bertanya bila
ada yang belum dimengerti.
Rasional :mengetahui sejauh mana pengetahuan pasien dan keluarga pasien setelah diberi penjelasan tentang penyakitnya.
4) Beri reinforcement positif jika klien menjawab dengan tepat
Rasional : memberikan rasa percaya diri pasien dalam kesembuhan sakitnya.

8. Cemas berhubungan dengan mekanisme koping yang tidak efektif, krisis situasi akibat perubahan status kesehatan dan hospitalisasi.
a. Tujuan: Cemas berkurang
b. Kriteria hasil: Menggambarkan kecemasan, menghubungkan peningkatan psikologis dan kenyamanan fisiologis, menggunakan mekanisme koping yang efektif dalam mengalami cemas.
c. Intervensi
1) Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien
Rasional : memudahkan intervensi
2) Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas dimasa lalu.
Rasional : mempertahankan mekanisme koping adaptif, meningkatkan kemampuan mengontrol ansietas.
3) Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan.
Rasional : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan kecemasan yang dirasakan
4) Motivasi pasien untuk menfokuskan diri pada rialita yang ada saat ini, harapan-harapan yang positif terhadap terapi yang dialami.
Rasional : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan.
5) Anjurkan pasien untuk menggunakan tehnik relaksasi.
Rasional : menciptakan perasaan yang tenang dan nyaman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar